Garasi Bogor, 2020
Vespa Piaggio 1968 ini ditemukan dalam kondisi barn find di garasi keluarga di Bogor — body tertutup debu tiga dekade, mesin macet, tapi rangka masih utuh tanpa karat tembus. Pemilik lama adalah seorang pensiunan guru yang membelinya baru tahun 1971, memakainya harian sampai akhir 80-an, lalu menyimpannya begitu saja ketika sepeda motor bebek mulai menjamur di jalan raya.
Butuh tiga tahun mencari sparepart original: karburator Dell'Orto, lampu depan asli, sampai baut-baut berkode pabrik yang sudah tidak diproduksi lagi.
Membongkar yang sudah lama mati
Hal pertama yang dilakukan bukan membersihkan body, melainkan membongkar mesin sampai baut terakhir. Mesin yang macet lebih dari tiga puluh tahun punya satu risiko besar: seal karet yang sudah mengeras bisa merusak crankshaft saat dipaksa hidup. Jadi keputusannya tegas — bongkar total, catat setiap komponen, foto setiap tahap.
Di tahap inilah kejujuran sebuah restorasi diuji. Banyak unit di pasaran kelihatan cantik dari luar tapi isinya gado-gado: piston beda model, kampas kopling bekas pungut, rangka disumpal dempul. Unit ini beruntung — 80 persen komponen masih original dan layak dipakai ulang setelah dibersihkan.
Proses restorasi
Overhaul mesin 150cc dilakukan bertahap: piston, seal, dan kampas kopling diganti baru, namun casing mesin dipertahankan tanpa dipoles ulang supaya patina originalnya tetap terlihat. Cat verde scuro diaplikasikan ulang mengikuti kode warna pabrik Piaggio era 1968, dicocokkan lewat sampel cat yang masih menempel di bagian dalam dek.
Pemilihan cat ini sendiri perdebatan panjang di meja kerja. Ada dua kubu di dunia restorasi: kubu showroom yang maunya kinclong sempurna, dan kubu preservasi yang pertahankan jejak usia selama tidak merusak struktur. Unit ini jalan tengah — body rapi warna pabrik, tapi bagian dalam dan mesin dibiarkan bernafas dengan patinanya.
Speedometer original tetap dipakai meski kacanya sudah baret halus — itu bagian dari cerita unit ini, bukan cacat yang perlu ditutupi. Kaca baret itu, katanya, adalah tanda bahwa motor ini pernah hidup, pernah dipakai antar anak sekolah, pernah menempuh hujan dan panas jalan raya Bogor.
Pencarian sparepart yang mengubah jadi hobi
Cerita paling melelahkan sekaligus paling dikenang adalah berburu sparepart. Karburator Dell'Orto SHA 17 yang pas dicari enam bulan, ketemu di tukang loak Pasar Baru yang tidak tahu barangnya langka. Lampu depan asli dibeli dari sesama kolektor Bandung yang kebetulan sedang merombak dua unit sekaligus.
Baut berkode pabrik Piaggio ternyata jadi item paling sulit. Produksinya sudah berhenti, stok peredarnya tinggal sedikit, dan harganya bisa lebih mahal dari sparepart mesin. Di titik ini banyak restorasi menyerah dan memakai baut universal — tidak dengan unit ini.
Selama pencarian itulah kontak kolektor bertambah, grup diskusi ramai, dan tanpa sadar garasi kecil berubah jadi tempat nongkrong anak scooter tiap akhir pekan. Beng Scooter Gallery, dalam bentuk paling awalnya, lahir dari rutinitas itu.
Uji jalan pertama
Setelah dua tahun lebih tergeletak dalam kondisi terbongkar, mesin akhirnya hidup kembali di percobaan ketiga. Suara 2-tak 150cc dengan knalpot original punya karakternya sendiri — kasar di awal, lalu stabil di putaran menengah. Uji jalan pertama hanya keliling kompleks, kecepatan rendah, mata dan telinga penuh perhatian ke setiap getaran.
Kopling yang tadinya kaku mulai melunak setelah dipakai. Rem tromol depan perlu penyesuaian beberapa kali. Tapi esok paginya, tanpa dibahas siapa dulu yang usul, motor ini dipakai sarapan ke warung nasi uduk ujung jalan — persis seperti ritual pemilik pertamanya empat puluh tahun lalu.
Catatan garasi
Unit ini sekarang jadi bagian tetap koleksi Beng Scooter Gallery — jarang dipakai harian, lebih sering jadi contoh rujukan buat kolektor lain yang mencari referensi restorasi model serupa. Setiap orang yang bertanya selalu dapat cerita yang sama dari awal: dari garasi berdebu di Bogor, tiga tahun kesabaran, sampai mesin hidup lagi.
Dan cerita ini belum selesai — masih ada satu unit lagi di meja kerja, Lambretta LI 150, yang kisahnya sedang ditulis pelan-pelan.